Saat Ku Kecil

Terlahir sempurna.
Tapi kemudian Tuhan mengambil sebagian kecil dari kesempurnaan itu.

Untuk apa ?
Apa ada yang Engkau takutkan, bila nanti aku hidup di dunia ini dengan fisik ku yang sempurna ?

Atau Engkau ingin menguji ku di dunia ini, dengan ujian yang bisa melemahkan iman ku kepada-Mu ?

Ataukah Engkau ingin aku belajar tentang sesuatu yang belum sempat Engkau ajarkan kepada Pendahulu-Pendahulu ku ?
Sehingga Mereka tidak sempat menjadikannya sebagai catatan-catatan penting untuk diajarkan kepada kaumnya dan makhluk-makhluk berikutnya ?

Atau Engkau memang sentimen kepada ku ?

_______________
_______________

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang dulu sering bergentayangan di ruang otak ku.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang akhirnya membuat kesadaran ku mulai tumbuh, tentang adanya sebuah ilmu "hidup dan kehidupan" yang harus ku gali lebih dalam sebagai bahan presentasi ku nanti di hadapan-Nya.

_________
_________

Hidup dalam ketidak sempurnaan, telah meneteskan air mata kesedihan.
Hinaan, pandangan yang terasa mengucilkan diri ku, membuat ku tidak percaya diri dalam pergaulan.

Rasa sedih dan pedih yang sering ku rasakan, tak terasa sering membawa ku ke tempat yang sepi.
Untuk duduk sendiri...... merenungi setiap apa yang telah ku jalani dan ku rasakan.

Suatu waktu, saat masih anak-anak, aku dihina oleh teman-teman masa kecil ku, karena kekurangan ku.
Mereka mengejek ku saat berlari bersama mereka mengejar layang-layang yang putus.
Fisik ku yang tidak sempurna, membuat ku tidak bisa berlari dengan sempurna, sehingga selalu menjadi bahan olok-olokan mereka.

Akhirnya, hanya pergi menghindar sambil menangis, yang aku bisa.
Ingin kembali mengadu kepada orang tua, tapi apalah guna.
Akhirnya aku pergi ke sebuah tempat yang sepi, dimana teman-teman yang telah menghina ku tak mungkin akan menemukan ku disana.
Karena tempat itu dicap sebagai tempat angker oleh orang-orang sekitar.

Aku menangis.
Hati ku bertanya kepada-Nya, "kenapa Engkau takdirkan aku seperti ini !!??"

Berulang-ulang ku tanyakan itu melalui hati ku.
Hingga akhirnya, terasa ada angin yang berhembus dan menggoyang-goyangkan rumput-rumput di depan ku.

Ku lihat rumput-rumput itu bergoyang, seolah peduli dengan kesedihan yang tengah ku rasakan.

Setelah agak lama ku perhatikan, aku melihat seolah rumput-rumput itu ingin memberitahukan ku sesuatu.

Dan saat aku melihat, di atas pohon pendek, tak jauh dari tempat aku duduk ada sebuah layangan putus yang masih bagus, tergeletak di sana.
Dan aku pun segera mengambilnya.

Akhirnya akupun pulang, dengan hati yang sangat senang.
Dan semua kesedihan itu terlupakan dengan sendirinya.

Komentar